Haemophilus influenzae


Haemophilus influenzae

A. Definisi
Bakteri ini sering ditemukan di selaput mukosa saluran napas atas pada manusia. Bakteri ini menjadi penyebab meningitis pada anak-anak dan terkadang menyebabkan infeksi pada orang dewasa. Ciri khas morfologi dari organisme ini adalah terlihat sebagai kokobasil pendek kira-kira 1,5 μm atau seperti rantai pendek. Pada biakan morfologinya bergantung pada umur dan pembenihan. Setelah kira-kira 6-8 jam dalam pembenihan diperkaya, bentuk kokobasilnya ditemukan terbanyak. Kemudian didapatkan batang yang lebih panjang, bakteri mengalami lisis dan berbentuk pleomorfik.

B. Sifat patologis
H. influenzae tidak menghasilkan eksotoksin dan peranan antigen somatik toksiknya pada penyakit alamiah belum jelas. Organisme yang tidak bersimpai termasuk anggota flora normal saluran pernapasan manusia. Simpai bersifat antifagositik bila tidak terdapat antibodi antisimpai khusus. H. influenzae yang memiliki simpai khususnya tipe b menyebabkan infeksi pernapasan supuratif (sinusitis, laringotrakeitis, epiglotitis, otitis) dan pada anak kecil meningitis. Darah dari orang dengan umur kira-kira 3-5 tahun memiliki daya bakterisidal kuat terhadap H. influenzae, dan infeksi klinik lebih jarang terjadi pada orang itu. Namun sekarang antibodi bakterisidal sudah jarang ditemukan pada 25% orangAS dan infeksi yang bersifat klinik lebih sering terjadi pada orang dewasa. H. influenzae yang dapat digolongkan atau tidak bersimpai tipe b umumnya menyebabkan otitis media (mekanisme patogeniknya belum jelas). Bakteri ini dan pneumonia menjadi penyebab utama otitis media bacterial dan sinusitis akut. Organisme ini dapat ikut aliran darah atau terkadang menetap di sendi. Jika menetap di sendi maka bakteri dapat menyebabkan Artritis Infeksiosa.

C. Penyakit yang ditimbulkan dan gejalanya
1. Artritis Infeksiosa
  • Pada anak anak akan menyebabkan demam dan nyeri (anak cenderung rewel). Mereka biasanya tidak mau menggerakkan sendi karena akan sangat nyeri.
  • Pada remaja sampai dewasa gejalanya dapat terjadi secara tiba-tiba.
  • Persendian akan memerah dan terasa hangat, jika digerakkkan akan sangat nyeri. Sendi-sendi yang sering terkena adalah lutut, bahu, pergelangan tangan, panggul, jari dan sikut.
  • Sendi akan bengkak karena penumpukan cairan terinfeksi.
  • Penderita juga bisa mengalami demam dan menggigigil.
    Sebagian besar infeksi bakteri, jamur dan mikobakteria, hanya mengenai satu sendi atau kadang-kadang mengenai beberapa sendi.
2. Meningitis
Selain itu H. influenzae juga menjadi penyebab utama meningitis bakteri pada anak-anak (usia 5 bulan sampai 5 tahun). Terkadang pada bayi timbul laringotrakeitis obstruktif yang hebat dengan epiglotis yang membengkak dan berwarna merah anggur. Keadaan ini memerlukan intubasi segera untuk menyelamatkan hidup. Pneumonitis dan epiglotis akibat H. influenzae dapat terjadi setelah saluran pernapasan terinfeksi (pada anak kecil dan orang dewasa). Selain itu orang dewasa dapat menderita bronkitis atau pneumonia akibat H. influenzae.

D. Siklus dalam Tubuh
Setelah 6-8 jam bentuk kokobasil ditemukan terbanyak.

E. Imunitas
Bayi dengan umur dibawah 3 bulan memiliki antibodi dalam serum yang diperoleh dari ibunya. Pada masa ini memang infeksi H. influenzae jarang terjadi, tetapi kemudian antibodi akan hilang. Anak-anak mendapat infeksi H. influenzaebiasanya dalam bentuk asimtomatik tetapi dapat dalam bentuk penyakit pernapasan atau meningitis. Pada umur 3-5 tahun kebanyakan anak-anak memiliki antibodi yang dapat membunuh bakteri dengan bantuan komplemen dan fagositosis (antibodi yang dimaksud adalah antibodi PRP). Imunisasi pada anak-anak menimbulkan antibodi yang sama.
Ada korelasi antara adanya antibodi bakterisidal dan resistensi terhadap infeksi H. influenzae tipe b. Namun tidak diketahui apakah antibodi ini saja yang menimbulkan imunitas. Pneumonia dan artritis masih dapat timbul pada orang dewasa yang memiliki antibodi ini.

F. Pengobatan
1. Artritis Infeksiosa
Cara pengobatan awal biasanya pemberian antibiotik, walaupun belum diperoleh hasil laboratorium mengenai kuman penyebabnya. Antibiotik yang diberikan biasanya yang dapat membunuh semua bakteri. Antibiotik ini diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah) hal ini dimaksudkan agar tercapai jumlah obat yang cukup sampai ke sendi yang terinfeksi. Walaupun jarang diberikan antibiotik ada yang disuntikkan langsung ke sendi terinfeksi. Bila antibiotik yang dipakai tepat maka akan memberi efek setelah 48 jam.
Untuk mencegah terjadinya penggumpalan nanah yang bisa merusak sendi maka dilakukan pengeluaran nanah dengan jarum, namun bila jarum tidak bisa mencapai sendi yang dituju maka digunakan sebuah selang untuk mengeluarkan nanahnya. Bila kedua cara ini tidak bisa dilakukan maka dilakukan pembedahan atau artroskopi.
Penggunaan bidai sebenarnya dapat membantu meringankan nyeri, namun dapat memberi efek seperti kekakuan bahkan kehilangan fungsi menetap.
Pengobatan lain antara lain dengan obat anti jamur bila disebabkan oleh jamur, kombinasi antibiotik bila penyebabnya tuberkulosis. Sedangkan untuk infeksi karena virus cukup dengan pengobatan demam dan nyerinya karena infeksi oleh virus ini akan membaik dengan sendirinya. Jika yang diserang adalah sendi buatan maka setelah pemberian antibiotik harus dilakukan pembedahan untuk mengganti sendi yang rusak dengan sendi buatan yang baru (pemberian antibiotik saja biasanya tidak cukup).
2. Meningitis

Angka kematain karena meningitis yang tidak diobati mencapai 90%. Banyak strain H. influenzae tipe b peka terhadap amphisilin, tetapi 25% strain resiten karena membentuk β-laktamase di bawah kendali plasmid yang dapat dipindahkan. Kebanyakan semua strain peka terhadap kloramfenikol dan sefalosporin baru. Pemberian sefotaksim 150-200 mg/kg/hari secara intravena memberi hasil yang baik. Diagnosis dan pemberian obat antimikroba secara tepat sangant penting agar sekuele gangguan neurologik dan intelektual dapat dikurangi. Komplikasi lanjut biasanya terjadi penimbunan cairan subdural yang memerlukan drainase melalui pembedahan.

G. Epidemologi, Pencegahan, dan Pengendalian
H. influenzae tipe b bersimpai penularannya dari orang ke orang melalui jalur pernapasan. Penyakit akibat H. influenzae tipe b dapat dicegah dengan pemberianvaksin konjugat Haemophilus b pada anak-anak. Anak-anak dengan usia 2 bulan atau lebih dapat diimunisasi dengan vaksin konjugat H. influenzae tipe b dengan satu dari dua pembawa dengan dosis boster yang sesuai anjuran. Anak-anak usia 15 bulan atau lebih dapat diberi toksoid difteri (yang tidak bersifat imunogenik pada anak-anak yang lebih muda).
Kontak dengan pasin yang menderita infeksi klinik memberi resiko kecil bagi orang dewasa saja, karena memberi resiko nyata bagi sudara kandung yang nonimun dan anak-anak nonimun lain yang berusia di bawah 4 tahun yang brkontak erat. Profilaksis dan rifampin sangat dianjurkan bagi anak-anak tersebut.


http://www.medicastore.com. Senin 5 Februari 2007
Brooks, Geo. F, dkk. (1995). ‘Mikrobiologi Kedokteran’, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran, hal. 265-267
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Supported by : Depok Cyber Network
Copyright © 2010 - 2014. Ade Muhsin Blog's - All Rights Reserved
Template Modified by whiteshen. Published by Ade Muhsin Blog's
Proudly powered by Blogger